Oleh: Sri Rahayu Hanapiah
BAB I
FILSAFAT PERILAKU ORGANISASI
1. Pengertian Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi berkaitan dengan bagaimana orang bertindak dan bereaksi dalam semua jenis organisasi. Organisasi itu sendiri adalah unit sosial yang saling sadar dikoordinasikan, terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih yang berfungsi secara relatif berkelanjutan untuk mencapai tujuan (Robbins dan Judge. Sedangkan Grenberg dan Baron berpendapat bahwa organisasi adalah sistem sosial yang terstruktur terdiri dari kelompok dan individu bekerja sama untuk mencapai beberapa sasaran yang disepakati.
Sedangkan menurut Greenberg dan Baron yang di kutip Wibowo (2013:2), Perilaku organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah suatu studi tentang perilaku manusia dalam pengaturan organisasi, hubungan antara individu dengan organisasi, dan organisasi itu sendiri.
Mempelajari perilaku organisasi sering kali menghasilkan atau menemui prinsip-prinsip yang kompleks dimana penjelasan atau analisanya bersifat situasional, pengertian perilaku organisasi untuk multi disiplin dapat di gambarkan dalam beberapa hal yaitu:
Pertama : Perilaku organisasi adalah cara berpikir, perilaku adalah aktivitas yang ada pada diri individu, kelompok, dan tingkat organisasi
Kedua : Perilaku organisasi adalah multi disiplin yang mencangkup teori, metode dan prinsip- prinsip dari berbagai disiplin ilmu.
Ketiga : Dalam organisasi terdapat suatu orientasi kemanusiaan, dimana terdapat perilaku, persepsi, perasaan, dan kapasitas pembelajar.
Keempat : Perilaku organisasi berorientasi pada kinerja, tujuan organisasi adalah meningkatkan produktivitas, bagaimana perilaku organisasi ini dapat mencapai tujuan itersebut.
Kelima : Lingkungan eksternal sangat memberikan pengaruh terhadap perilaku organisasi
Keenam : Untuk mempelajari perilaku organisasi ini perlu menggunakan metode ilmiah, karena perilaku organisasi ini sangat tergantung dari disiplin ilmu yang meliputinya.
Lingkup ilmu mengenai perilaku organisasi meliputi psikologi, sosiologi dan antropologi budaya di mana ilmu-ilmu tersebut telah memberikan kerangka dasar dan prinsip-prinsip pada bidang perilaku organisasi. Namun masing-masing ilmu pengetahuan memiliki tinjauan yang berbeda. Dalam mempelajari perilaku organisasi dapat dilakukan dengan tiga tingkat analisis, yaitu tingkat individu, kelompok, dan organisasi.
2. Perilaku Individu dalam Organisasi
Sopiah (2008: 13) untuk dapat memahami perilaku individu dengan baik, terlebih dahulu kita harus memahami karakteristik yang melekat pada indvidu. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah ciri-ciri biografis, kepribadian, persepsi dan sikap. Oleh karena itu untuk memahami perilku organisasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu individu-individu sebagai pendukung organisasi tersebut.
Hal ini disebabkan oleh setiap orang memiliki cara yang berbeda- beda dalam menghadapi rangsangan- rangsangan yang mereka hadapi. Dalam teori ini bahwa dalam diri manusia ibaratada pertempuran antar the id dan superego yang dimoderasi oleh ego. Teori- teori humanistik menekankan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan tumbuh dan beraktualisasi diri. Rogers dalam Badeni (2013: 20) meyakini bahwa dorongan atau rangsangan yang paling pokok dalam diri manusia adalah aktualisasi diri yaitu upaya secara terus-menerus untuk merealisasikan potensi yang inheren pada diri individu menjadi terwujud. Dari ketiga penjelasan teori diatas bahwa semua orang mempunyai kepribadian. Tidak ada orang yang mempunyai keperibadian lebih banyak atau lebih besar dibandingkan orang lain. Yang ada adalah masing-masing mempunyai keperibadian yang berbeda.
3. Perilaku Kelompok dalam Organisasi
Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok- kelompok ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok- kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barang kali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.
Robbins dan Judge (2008: 258) dalam Sucipto dan Siswanto (2008 : 58-59) berpendapat bahwa manusia berkelompok untuk alasan:
a. Rasa Aman
b. Harga Diri
c. Afiliasi
d. Status
e. Kekuatan
f. Pencapaian Tujuan
4. Mengapa Perlu Perilaku Organisasi
Tiga alasan mengapa perlu mempelajari perilaku organisasi seperti yang dikemukakan oleh Vecchio yang dikutip oleh Wibowo (2013: 3) yaitu:
a. Practical Application
Dalam kenyataan riil organisasi, ada beberapa manfaat memahami perilaku organisasi, antara lain berkenaan dengan pengembangan gaya kepemimpinan, pemilihan strategi dalam mengatasi persoalan, seleksi pekerjan yang tepat, peningkatan kinerja dan sebagainya.
b. Personal Growth
Dengan memahami perilaku organisasi dapat lebih memahami orang lain. Memahami orang lain akan memeberikan pengetahuan diri dan wawasan diri lebih besar. Dengan memahami orang lain, atasan dapat menilai apa yang diperlukan bawahan untuk mengembangkan diri sehingga pada gilirannya meningkatkan kontribusi pada organisasi.
c. Increased knowledge
Dengan perilaku organisasi dapat menggabungkan pengetahuan tentang manusia dalam pekerjakan. Studi perilaku organisasi dapat membantu orang untuk berfikir tentang masalah yang berhubungan dengan pengalaman kerja. Kemampuan berpikir kritis dapat bermanfaat dalam menganalisis baik masalah pekerjaan maupun personal.
5. Konstribusi Disiplin Ilmu Pada Organisasi
Menurut Robbins yang dikutip oleh Badeni (2013: 7) ikhtisar sumbangan disiplin- disiplin ilmu tersebut adalah:
• Psikologi
Ilmu psikologi memberikan sumbangan terhadap perilaku organisasi terutama dalam hal pemahaman tentang perilaku individu dalam organisasi, terutama psikologi organisasi yang mencoba untuk memahami dan mengendalikan perilaku seseorang dalam organisasi.
• Sosiologi
Ilmu sosiologi membahas tentang sistem sosial dan interaksi manusia dalam suatu sistem sosial. Sumbangan ilmu sosiologi terhadap perilaku keorganisasian terutama pemahaman tentang perilaku kelompok di dalam organisasi.
• Antropologi
Ilmu antropologi mempelajari tentang interaksi antara manusia dan lingkungannya. Manusia hidup dalam kelompok dan memiliki kebiasaan- kebiasaan yang disebut kultur atau budaya. Sumbangannya dalam perilaku organisasi adalah membantu untuk memahami perbedaan- perbedaan sikap dan perilaku individu dalam organisasi.
• Ilmu politik
Selain tiga bidang ilmu di atas, bidang- bidang ilmu lain seperti politik, sejarah, dan ilmu ekonomi juga turut memberikan andil. Ilmu politik mempelajari tentang perilaku individu dan kelompok di dalam suatu lingkungan politik. Sumbangan dari ilmu politik terhadap perilaku keorganisasian terutama dalam proses mempengaruh, pengalokasian wewenang dan pengelolaan konflik.
6. Keterkaitan Beberapa Disiplin Ilmu Terhadap Perilaku Organisasi
Umam (2012: 37-38) Perilaku organisasi merupakan ilmu perilaku terapan yang dibangun dengan dukungan sejumlah disiplin perilaku. Bidang-bidang yang menonjol adalah psikologi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, dan ilmu politik. Adapun keterkaitan beberapa disiplin ilmu dengan ilmu perilaku organisasi, yaitu sebagai berikut:
• Psikologi
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengukur, menjelaskan, dan kadang-kadang mengubah perilaku manusia. Para psikolog memfokuskan diri dalam mempelajari dan berupaya memahami perilaku individual. Mereka yang telah menyumbangkan dan terus menambah pengetahuan tentang OB adalah teoritikus pembelajaran, teoritikus kepribadia, psikolog konseling, dan yang terpenting adalah psikolog industri dan organisasi.
• Sosiologi
Bila psikolog memfokuskan perhatiannya pada individu, para sosiolog mempelajari sistem sosial tempat individu-individu mengisi peran-peran mereka. Oleh karena itu, sosiologi mempelajari hubungan manusia dengan sesamanya. Secara khusus, sosiologi telah memberi sumbangan terbesar kepada OB melalui penelitian mereka terhadap perilaku kelompok dalam organisasi, terutama organisasi formal dan rumit. Sebagian bidang dalam OB yang menerima masukan berharga dari para sosiologi adalah dinamika kelompok, desain tim kerja, budaya organisasi, teori dan struktur organisasi formal, teknologi organisasi, komunikasi, kekuasaan, dan konflik.
• Antropologi
Antropologi adalah studi tentang masyarakat untuk mempelajari manusia dan kegiatannya. Misalnya, karya antropologi tentang budaya dan lingkungan telah membantu memahami perbedaan-perbedaan nilai fundamental, sikap, dan perilaku di antara orang- orang di negara- negara berbeda serta dalam organisasi- organisasi, lingkungan organisasi, dan perbedaan- perbedaan antara budaya budaya nasional merupakan hasil karya seorang antropolog atau mereka yang menggunakan metode- metode antropologi.
• Ilmu politik
Ilmu politik mempelajari perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan politik. Topik-topik penelitian spesifik di sini, antara lain strukturisasi konflik, alokasi kekuasaan, dan bagaimana orang memanipulasi kekuasaan, dan kepentingan individu.
7. Model Perilaku Organisasi
McShane dan Von Glinow yang dikutip Wibowo (2013:10) merumuskan perilaku individu sebagai model MARS dan digambarkan seperti dibawah ini.
Individual
Characteristics
Gambar 1 MARS Model
Motivation atau motivasi mencerminkan kekuatan dalam diri orang yang memengaruhi direction (arah), intensity (intensitas) dan persistence (kekuatan) orang tersebut dalam perilaku sukarela. Direction menunjukkan jalan yang diikuti orang yang terikat pada usahanya. Sebenarnya, orang mempunyai pilihan kemana menempatkan usaha. Dengan demikian motivasi diarahkan oleh tujuan, atau goal directed. Sedangkan intensity adalah tentang
seberapa besar orang mendorong dirinya untuk menyelesaikan tugas. Sementara itu, persistence menunjukan usaha berkelanjutan selama waktu tertentu. Ability atau kemampuan merupakan natural aptitude, kecerdasan alamiah dan learned capabilities, kapabilitas yang dipelajari yang diperlukan untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas.
Aptitudes adalah bakat alamiah yang membantu pekerja mempelajari tugas spesifik lebih cepat dan mengerjakannya dengan lebih baik. Terdapat banyak kecerdasan fisik dan mental dan kemampuan kita memperoleh keterampilan dipengaruhi oleh kecerdasan ini sedangkan learned capabilities adalah keterampilan dan pengetahuan yang telah kita peroleh. Kapabilitas ini termasuk keterampilan dan pengetahuan fisik dan mental yang telah diperoleh. Learned capabilities cenderung berkurang selama berjalannya waktu apabila tidak dipergunakan.
Role perception atau persepsi terhadap peran diperlukan untuk mewujudkan pekerjaan dengan baik. Persepsi peran merupakan tingkatan dimana orang memahami tugas pekerjaan atau peran yang ditugas kan kepada mereka atau diharapkan dari mereka. Persepsi ini sangat penting karena mereka membimbing arah usaha pekerja dan memperbaiki koordinasi dengan teman sekerja, pemasok dan stakeholder atau pemangku kepentingaan. Situational Factors atau faktor situasi merupakan kondisi diluar kontrol langsung pekerja yang membatasi atau memfasilitasi perilaku dan kinerja.
Beberapa karakteristik situasional, preferensi konsumen dan kondisi ekonomi, bermula dari lingkungan eksternal dan konsekuensinya, berada diluar kontrol pekerja dan organisasi. Tetapi faktor situasional lain seperti waktu, orang, anggaran dan fasilitas kerja fisik, dikendalikan oleh orang didalam organisasi. Karenanya, pemimpin korporasi perlu secara berhati-hati mengatur kondisi ini, sehingga pekerja dapat mencapai potensi kinerjanya
Keempat elemen model MARS, motivation, ability, role perceptions dan situational factors memengaruhi secara sukarela semua perilaku ditempat pekerjaan dan hasil kinerja mereka. Elemen ini dengan sendirinya dipengaruhi oleh perbedaan individual lainnya.
8. Pendekatan Perilaku Organisasi Pada Manajemen
a. Kerangka Kognitif
Pendekatan kognitif pada perilaku manusia memiliki banyak sumber input. Pendekatan kognittif menekankan aspek perilaku manusia yang positif dan berkeinginan bebas dan menggunakan konsep seperti harapan, permintaan, dan tujuan. Kognisi, yang merupakan unit dasar dari kerangka kognitif, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mengetahui sebuah item informasi. Dengan kerangka tersebut, kognisi mendahului perilaku dan merupakan input dalam pemikiran, persepsi, pemecahan masalah, dan proses informasi seseorang. Konsep seperti peta kognitif dapat digunakan sebagai gambar atau alat bantu visual untuk memahami “kemampuan seseorang untuk memahami elemen pemikiran tertentu dari individu, kelompok, atau organisasi.”
b. Kerangka Kognitif Sosial
Pengetahuan sosial menunjukkan keadaan bahwa perilaku dapat dijelaskan dengan baik dalam konteks interaksi resiprokal berkelanjutan antara faktor kognitif, perilaku, dan lingkungan. Orang dan situasi lingkungan tidak berfungsi sebagai unit yang berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan perilaku itu sendiri, yang secara resiprokal berinteraksi untuk menentukan perilaku.
BAB II
KEPRIBADIAN DAN EMOSI
1. Kepribadian
Tanpa disadari, faktor kepribadian dan emosi menjadi salah satu penentu keberhasilan kinerja yang dicapai oleh suatu organisasi karena untuk mencapai suatu tujuan dari organisasi, faktor individu dan kelompok juga sangat mempe-ngaruhi keberhasilan sebuah organisasi. Maka dari itu, sangat diperlukan bagi seseorang untuk tahu dan mengerti tentang kepribadian dan emosi, baik dari segi pengertian, ciri-ciri, dan bagian-bagian lainnya.
Friedman (2006: 5) menyatakan banyak teori kepribadian muncul dari observasi dan introspeksi mendalam dari para pakar pemikir.
Gambar 2 Proses-proses kepribadian dengan pendekatan deduktif dan induktif Friedman (2006: 6)
a. Terminologi Kepribadian
Sofyandi dan Garniwa (2007: 74) menyatakan hubungan antara perilaku dengan kepribadian mungkin merupakan salah satu masalah paling rumit yang harus dipahami oleh para manajer. Kepribadian amat banyak dipengaruhi oleh faktor kebudayaan dan sosial. Tanpa mempersoalkan bagaimana orang mendefenisikan kepribadian, beberapa prinsip pada umumnya diterima oleh para ahli psikologi. Prinsip-prinsip itu adalah:
a. Kepribadian adalah suatu keseluruhan yang terorganisasi, apabila tidak, individu itu tidak mempunyai arti.
b. Kepribadian kelihatannya di organisasi dalam pola tertentu. Pola ini sedikit banyak dapat diamati dan diukur.
c. Walaupun kepribadian mempunyai dasar biologis, tetapi perkembangan khususnya adalah hasil dari lingkungan social dan kebudayaan.
d. Kepribadian mempunyai berbagai segi yang dangkal, seperti sikap untuk menjadi pemimpin tim, dan inti yang lebih dalam, seperti sentiment mengenai wewenang atau etika kerja.
e. Kepribadian mencakup ciri-ciri umum dan khas. Setiap orang berbeda satu sama lain dalam beberapa hal, sedangkan dalam beberapa hal serupa.
Kelima gagasan ini tercakup dalam defenisi kepribadian berikut ini: Sofyandi dan Garniwa (2007: 75) menyatakan “kepribadian seseorang ialah seperangkat karakteristik yang relatif mantap, kecenderungan dan perangai yang sebagian besar dibentuk oleh factor keturunan dan oleh factor-faktor sosial, kebudayaan, dan lingkungan. Perangkat variable ini menentukan persamaan dan perbedaan perilaku individu,”.
Gambar 3 Beberapa Kekuatan Utama yang Mempengaruhi Kepribadian (Sofyandi dan Garniwa, 2007: 75)
b. Determinan Kepribadian
Gambar 4 Faktor Mempengaruhi Kepribadian dikutip dalam buku Wibowo (2014: 18)
Menurut Robbins dan Judge (2009: 127-128) menyatakan kepribadian dihasilkan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Keturunan menunjukkan pada faktor genetik seorang individu, tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan reflex, tingkat energi, dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, apakah sepenuhnya atau secara substansial dipengaruhi oleh siapa orang tua anda, yaitu komposisi biologis psikologis dan psikologis bawaan mereka. Pendekatan keturunan berpendapat bahwa penjelasan pokok mengenai kepribadian seseorang adalah struktur molekul dari gen yang terdapat dalam kromosom. Terdapat tiga dasar penelitian berbeda yang memberikan sejumlah krebidilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berpokus pada penyokom genetic dari prilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berpokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsintensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.
c. Dimensi Kepribadian
Kepribadian mengandung beberapa dimensi, indikator, sifat, ciri, unsur, komponen, atau karakteristik. Adapun beberapa teori pengembangan kepribadian menurut Suhendi dan Anggara ( 2010: 44-47) menyatakan:
• Teori Psikoanalitik
• Teori sifat atau perangai
• Teori tingkat Kebutuhan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian, ada lima dimensi besar yang menggambarkan karakteristik kepribadian seseorang individu: ekstraversi, kemampuan bersepakat, sifat berhati-hati, stabilitas emisional dan terbuka terhadap pengalaman.
• Extroversion (ekstroversil)
• Agreeableness (kemampuan bersepakat)
• Consientiousness (sifat berhati-hati)
• Emotional Stability (kestabilan emosi)
• Openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman)
Winardi (2004: 221) menyatakan ada tiga macam pendekatan teoretikal yang dapat dimanfaatkan guna memahami kepribadian, yaitu:
• Teori teori Sifat
• Teori-Teori Psikodinamik
• Teori-teori Humanistik
Sofyandi dan Garniwa (2007: 75) menyatakan terdapat tiga pendekatan teoritis untuk memahami kepribadian, yaitu: pendekatan ciri, pendekatan psikodinamis, dan pendekatan humanistis.
o Pendekatan Ciri (Trait Theoris)
• Pendekatan Psikodinamis (Psykodinamis Theoris)
• Teori Humanistik (Humanistic Theoris)
Menurut hasil penelitian dari Debora Eflina Purba dan Ali Nina Liche Seniati menyatakan bahwa struktur kepribadian berdasarkan sifat dapat dilihat antara lain dengan menggunakan kepribadian lima besar (the big five personality) yang dikembangkan oleh Costa dan McCrae (Costa & McCrae, 1992; McCrae, etal., 1998). Kelima sifat-kepribadian tersebut adalah
• neuroticism
• Extraversion
• openness to experience
• agreeableness
• conscientiousness.
2. Emosi
a. Terminologi Emosi
Emosi setiap orang adalah cerminan keadaan jiwanya, yang akan tampak secara nyata pada perubahan jasmaninya. Menurut Chaplin dalam buku Safaria dan Saputra (2009: merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
Proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun faktor fisiologis. Kebangkitan emosi kita pertama kali muncul akibat adanya stimulus atau sebuah peristiwa, yang bisa netral, positif, ataupun negatif. Stimulus tersebut kemudian ditangkap oleh reseptor kita, lalu melalui otak, kita menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai dengan kondisi pengalaman dan kebiasaan kita dalam mempersepsikan setiap kejadian. Interpretasi yang kita buat kemudian memunculkan perubahan secara internal dalam tubuh kita. perubahan tersebut misalnya nafas tersengal, mata memerah, keluar air mata, dada menjadi sesak, perubahan raut wajah, intonasi suara, cara menatap dan perubahan tekanan darah kita.
Gambar 5 Proses terjadinya emosi (Adaptasi dari Greenbreg &
b. Dimensi Emosi
Menurut Robbins dalam buku Wibowo (2014 : 82) menyatakan menunjukkan adanya tiga dimensi emosi, yaitu:
a. Variety
Terdapat banyak sekali pariasi emosi, namun yang penting adalah adalah penentuan klasifikasi yang bersifat positif dan negative.
b. Intensity
Orang memberikan tanggapan yang berbeda pada dorongan emosi yang kepribadian individual. Diwaktu lain merupakan hasil dari kebutuhan pekerjaan. Orang beragam dalam kemampuannya menyatakan intensitasnya. Pekerjaan membuat permintaan intensitas berbeda dalam bentuk emotional labor.
c. Frequency and Duration
Menunjukkan seberapa sering emosi perlu ditunjukkan dan untuk berapa lama. Emotional labor yang memerlukan frekuensi tinggi atau durasi panjang adalah lebih menuntut dan memerlukan lebih banyak pengarahan oleh pekerja.
c. Tipe Emosi
Orang banyak mengalami emosi dan berbagai kombinasi emosi, tetapi semua mempunyai dua tampilan umum. Pertama, emosi membangkitkan evaluasi global (dinamakan coreeffek) bahwa sesuatu adalah baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya, didekati atau dihindari. Kedua, semua emosi menghasilkan beberapa tingkat penggiatan. Tetapi mereka sangat berubah-ubah dalam penggiatan tersebut, yaitu seberapa banyak mereka meminta perhatian kita dan memotivasi kita untuk bertindak.
d. Emotional Labor
Wibowo (2014: 83) menyatakan Berhubungan dengan affek semakin meningkat dalam perilaku organisasi adalah emotional labor. Setiap pekerja mengeluarkan fisik dan mental labor ketika mereka menempatkan badannya dan kapabilitas kognitifnya emotional labor. Emotional labor adalah suatu situasi dimana pekerja menyatakan secara organisasional emosi yang diharapkan selama transaksi interpersonal di pekerjaan. Konsep emotional labor awalnya dikembangkan dalam hubungan dengan pekerjaan pelayanan. Tetapi emotional labor juga relevan pada hamper setiap pekerjaan. Tantangan sebenarnya timbul ketika pekerja harus melakukan satu emosi sambilmerasakan adanya emosi lainnya.
Disparitas ini dinamakan emotional dissonance, yang merupakan ketidak konsistenan antara emosi yang dirasakan orang dengan emosi yang mereka rancang. Emotional labor menciptakan dilema bagi pekerja. Sering terjadi kita harus bekerja dengan orang yang tidak kita suka. Mungkin kita pertimbangkan kepribadian mereka pembawaannya kasar. Mungkin kita tahu mereka telah mengatakan sesuatu hal negative tentang kita dibelakang kita. Bagaimana pun pekerjaan kita memerlukan interaksi dengan orang tersebut atas dasar hubungan regular. Maka kita dipaksa berpura-pura bersahabat. Untuk mengatasi masalah tersebut yang dapat dilakukan adalah dengan memisahkan emosi dalam felt atau displayed emotion. Felt emotion adalah emosi actual individual, sedang displayed emotion adalah emosi yang diharapkan organisasi untuk ditunjukkan pekerja dan dipertimbangkan sesuai dalam pekerjaan tertentu.
KESIMPULAN
Kepribadian adalah salah satu karakteristik, etika, moral, yang dimiliki oleh setiap individu dimana sifat dan keprbadian yang dimilikinya akan mempengaruhi maju mundurnya suatu organisasi. Kepribadian muncul dari penelitian empiris dan sistemastis. Sebagai contoh, kita mungkin tertarik untuk mengetahui tentang dimensi atau trait (seperti ekstroversi) yang esensial dalam kepribadian. Dengan mengumpulkan data observasi tentang trait dari banyak orang, kita bisa melihat trait mana yang sangat mendasar, dan trait mana yang kurang mendasar, tidak jelas, atau tidak penting. Kita dapat mengumpulkan banyak data sistemastis dari banyak orang dan terus memperbaiki kesimpulan kita ketika data yang baru terkumpul.
SUMBER :
W, Candra. (2017). Perilaku organisasi. Medan: LPPI.
Komentar
Posting Komentar