Oleh: Tasya Kamila Wasita
BAB IX
NILAI, SIKAP
DAN KEPUASAN KERJA
I.
Nilai
a. Terminologi Nilai
Gibson dkk dalam Wibowo (2014: 35)
Nilai-nilai atau Values adalah kesadaran, hasrat afektif atau keinginan orang
yang menunjukkan perilaku mereka. Nilai-nilai personal individu menunjukkan
perilaku di dalam dan di luar pekerjaan. Apabila serangkaian nilai-nilai orang
adalah penting, maka akan menunjukkan orang dan juga mengembangkan perilaku
konsisten untuk semua situasi. Stephen P. Robbins dalam Badeni (2013: 32) nilai
menyatakan basic convictions that a specific mode of conduct or end state of
existence is personally or socially preferable to an opposite or converged mode
of conduct or end state of existence.
Perlu kita ketahui bahwa deskripsi
nilai-nilai disini adalah memfokuskan pada individu sehingga dinamakan personal
values. Tetapi sekelompok orang mungkin mempunyai nilai-nilai yang sama,
sehingga cenderung dinamakan shared values untuk tim, departemen, organisasi,
profesi atau seluruh masyarakat. Sedangkan nilai- nilai yang dianut oleh orang
di seluruh organisasi dinamakan organizational values.
b. Tipe Nilai
Terdapat beberapa pendekatan dalam melakukan
klasifikasi tipe nilai- nilai, diantaranya adalah:
1)
Terminal dan Instrumental Values
Terminal values adalah keadaan akhir
nilai-nilai yang diharapkan, tujuan yang orang ingin mencapai selama hidupnya.
Sedangkan instrumental values adalah cara berperilaku yang disukai atau sarana
bagi seseorang untuk mencapai terminal values. Robbins dalam wibowo (2014: 36).
Banyak studi mencatat bahwa nilai-nilai bervariasi diantara kelompok. Orang
dalam pekerjaan atau kategori yang sama, sebagai manajer korporasi, anggota
perserikatan, orang tua, atau murid, cenderung mempunyai nilai-nilai yang sama.
Studi lain menunjukkan adanya perbedaan terminal values dan instrumental values
dari mereka yang berada dalam posisi berbeda. Menurut Rokeach dalam Badeni
(2013: 33) ada dua kategori nilai yaitu: terminal value dan instumental value.
Terminal value berkaitan dengan tujuan hidup dan instrumental value berkaitan
dengan cara pencapaiannya. Terminal value merupakan keadaan eksistensi akhir
yang diinginkan atau tujuan yang ingin dicapai selama-lamanya. Nilai ini dapat
berupa suatu kehidupan yang nikmat, nyaman, aman, makmur, damai, rasa berprestasi,
kemerdekaan, kebahagiaan, pengakuan sosial, dan lain-lain. Sedangkan
instrumental value merupakan cara mencapai nilai terminal yang diinginkan,
seperti ambisius, berani, memafkan, jujur, logis, sopan, tanggung jawab, dan
lain-lain. Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa terminal
value adalah keadaan nilai pada akhir suatu proses. Sedangkan instrumental
value merupakan nilai antara untuk menuju pada tercapainya terminal value.
2) Schwartz Value Theory
Schwartz
dalam Wibowo (2014: 37) meyakini bahwa nilai-nilai bersifat motivasional.
Apabila prestasi seseorang dihargai akan mengakibatkan orang tersebut bekerja
keras untuk mendapatkan promosi dipekerjaan.
c. Perbedaan-perbedaan Nilai
Geert
Hofstede dalam Badeni (2013: 34-35) berdasarkan hasil penelitiannya
menyimpulkan ada 6 variasi nilai untuk menganalisa variasi budaya.
Ø Power distance (jarak kekuasaan) yaitu
hingga sejauh mana anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan yang rendah
menerima distribusi kekuasaan yang tidak sama.
Ø Quantity and quality (kuantitas dan
kualitas kehidupan). Kuantitas kehidupan adalah sampai tingkatan mana nilai –
nilai seperti ketegasan perolehan uang dan bahan material, serta persaingan itu
gagal. Kualitas kehidupan adalah sampai tinkat mana orang menghargai hubungan
dan memperlihatkan kepekaan dan keprihatinan untuk kesejahteraan orang lain.
Ø Individualism Vs Collectivism
(individualisme lawan kolektif) yaitu seseorang lebih memperhatikan diri
sendiri dibandingkan collectivism yang menghendaki seseorang mempunyai tanggung
jawab yang lebih luas yaitu tanggung jawab sosial.
Ø Uncertainty avoidance (penghindaran
ketidakpastian) yaitu atribut budaya yang menggambarkan sejauh mana suatu
msyarakat merasa terancam oleh situasi yang tak pasti dan ambigu dan mencoba
menghindari situasi itu.
Ø Long term and short term orientation
(prientasi jangka panjang lawan jangka pendek). Orientasi jangka panjang adalah
dimana nilai – nilai yang dipakai oleh anggota masyarakat/organisasi itu
berorientasi ke masa depan serta menghargai penghematan dan ketekunan.
Sementara orang yang berorientasi jangka pendek menghargai masa lampau dan masa
sekarang serta menekankan penghargaan akan tradisi dan mematuhi kewajiban
sosial.
Ø Masculinity yaitu pembagian peran
antara pria dan wanita, yang didalamnya pria memiliki sifat memaksa dan
memiliki peran yang dominan sementara wanita memiliki peran yang lebih banyak
berhubungan dengan perhatian pada kualitas kehidupan dan hubungan.
d. Fungsi Nilai
Fungsi utama nilai dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Nilai sebagai standar, Rokeach dan Schwartz dalam Umam (2012:
76) fungsinya, yaitu a) Membimbing individu dalam mengambil posisi tertentu
dalam social issues tertentu; b)
Memengaruhi individu untuk lebih menyukai ideologi politik tertentu dibanding
ideologi politik yang lain; c) Mengarahkan cara menampilkan diri pada orang
lain; d) Melakukan evaluasi dan membuat keputusan; dan e) Mengarahkan tampilan
tingkah laku membujuk dan memengaruhi orang lain, memberi tahu individu akan
keyakinan, sikap, nilai, dan tingkah laku individu lain yang berbeda, yang bisa
diprotes dan dibantah, bisa dipengaruhi dan diubah.
e.
Hubungan Nilai dan Tingkah Laku
Rokeach dkk dalam Umam (2012: 77) Dalam kehidupan manusia,
nilai berperan sebagai standar yang mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing
individu untuk memasuki suatu situasi dan cara individu bertingkah laku dalam
situasi tersebut. Danandjaja dalam Umam (2012: 77) mengemukakan bahwa nilai
memberi arah pada sikap, keyakinan, dan tingkah laku seseorang, serta memberi
pedoman untuk memilih tingkah laku yang diinginkan pada setiap individu. Karena
itu, nilai berpengaruh pada tingkah laku sebagai dampak dari pembentukan sikap dan
keyakinan, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai merupakan faktor penentu dalam
berbagai tingkah laku sosial.
f. Nilai Etika dan Perilaku
Karakteristik
pekerja yang diharapkan dari seorang pemimpin bukan lah kecerdasan, keberanian,
dan bahkan sifat inspirasional. Meskipun hal tersebut penting, tetapi yang
dinilai paling penting adalah kejujuran atau etika. Etika menunjukkan dasar
moral atau nilai-nilai yang menentukan apakah suatu tindakan benar atau salah
dan hasilnya baik atau buruk. Orang menyadarkan pada nilai etika untuk
mempertimbangkan hal yang benar untuk dilakukan.
Menurut
Wibowo (2014: 46) dikenal adanya tiga macam prinsip etika, yaitu:
a. Utilitarianism. Prinsip ini menganjurkan untuk mencari kebaikan terbesar untuk jumlah orang yang terbesar. Kita harus
memilih opsi yang memberikan tingkat kepuasan tertinggi pada mereka yang
dipengaruhi. Ini menyangkut konsekuensi dari tindakan kita, bukan bagaimana
kita mencapai konsekuensi tersebut.
b. Individual rights. Merupakan prinsip yang mencerminkan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai hak yang memberikan mereka
bertindak dalam cara tertentu. Banyak dari hak yang paling luas disebutkan
adalah kebebasan pergerakan, keamanan fisik, kebebasan berbicara, pengadilan
yang jujur, dan kebebasan dari penderitaan. Prinsip hak individu lebih luas
dari hak hukum, tetapi termasuk hak manusia bahwa setiap orang diakui sebagai
norma hak moral.
c. Distributive justice. Merupakan prinsip yang menganjurkan bahwa orang yang sama satu sama lain
harus menerima manfaat dan beban yang sama, dan mereka yang tidak sama harus
menerima manfaat dan beban berbeda dalam proposi terhadap ketidaksamaannya. Dua
orang pekerja yang memberi kontribusi sama dalam pekerjaan harus menerima reward yang sama, sedangkan mereka yang
memberikan kontribusi lebih kecil harus menerima lebih sedikit.
II.
Sikap
a. Terminologi Sikap
Menurut
Winardi (2009: 211) sikap adalah determinan perilaku, karena mereka berkaitan
dengan persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu
keaadaan siap mental, yang dipelajari dan diorganisasi menurut pengalaman, dan
yang menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atas reaksi seseorang terhadap
orang-orang, objek-objek, dan situasi-situasi dengan siapa ia berhubungan.
Robbins dalam Sofyandi dan Garniwa (2007: 86) sikap adalah pernyataan evaluatif
baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan mengenai objek, orang, atau
peristiwa.
Sikap
sangat penting karena sikap itu mempengaruhi perilaku kerja. Jika pekerja
meyakni, misalnya bahwa para penyelia, pengaudit, atasan, dan insinyur waktu
dan gerak, semuanya bersekongkol untuk membuat karyawan bekerja lebih keras
dengan upah yang sama atau kurang, maka masuk akal untuk mencoba mengerti
bagaimana sikap-sikap ini dibentuk, hubungan sikap ini pada perilaku kerja, dan
bagaimana sikap ini dapat diubah.
b.
Komponen – Komponen Sikap
Badeni
(2013: 39) menyatakan bahwa sikap
terdiri dari tiga komponen yaitu:
a. Cognitive Component (komponen kognitif) yaitu keyakinan, kepercayaan, pemahaman, atau
pengetahuan seseorang mengenai orang, objek, atau peristiwa tertentu, misalnya
orang yakin bahwa kerja keras adalah awal dari kemajuan, atau suatu pekerjaan
yang dilakukan adalah membuang-buang waktu, atau keyakinan seseorang misalnya
bahwa orang batak adalah orang yang kasar. Hal ini dapat dipengaruhi oleh
pengalaman atau proses belajar. Keyakinan atau pemahaman ini menjadi awal dari
pembentukan perasaan terhadap sesuatu apakah terhadap manusia, benda, atau
peristiwa.
b. Effective Component (Komponen Afektif) yaitu perasaan seseorang terhadap sesuatu sebagai
akibat dari keyakinannya atau pemahamannya, misalnya seseorang yakin bahwa
orang indonesia rajin, pintar, dan ramah sehingga dia akan merasakan atau
berpandangan posiyif jika bertemu dengan orang indonesia. Kemudian, bila
berhubungan dengan
pekerjaan, keyakinan seseorang misalnya
bahwa pekerjaan yang sedang dilakukan tidak akan menghasilkan apa-apa bagi
dirinya, keyakinan tersebut akan membentuk perasaan negatif terhadap pekerjaan
tersebut.
c. Behavior (Perilaku) yaitu tindakan nyata yang ditampilkan seseorang akibat dari perasaannya
terhadap objek, orang atau peristiwa. Misalnya, ketidaksukaan terhadap
pekerjaan ditunjukkan dengan perilaku malas atau kurang produktif, tidak masuk
kerja, atau pindah kerja.
Komponen-Komponen Sikap
|
Komponen
|
|
Pengertian
|
Contoh
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Cognitive
|
Pemahaman,
|
pengetahuan
|
Mengenai pekerjaan
|
|
|
|
dan keyakinan seseorang
|
|
||
|
Afektif
|
Perasan
|
senang atau
tidak
|
Perasaan seseorang
|
|
|
|
senang,
|
Positif
|
atau negatif
|
|
|
|
terhadap pekerjaannya
|
|
||
|
Behavior
|
Tindakan nyata
|
|
Malas, absen, pindah
|
|
|
|
|
|
|
|
c. Tipe-tipe
Sikap
Menurut
Umam (2010: 80) Seseorang dapat mempunyai ribuan sikap, namun OB memfokuskan
perhatian kita Pada sejumlah kecil sikap yang berkaitan dengan perjanjian ini,
yaitu membuka jalan evaluasi positif atu negatif yang dipegang para karyawan
mengenai aspek-aspek lingkungan kerja mereka. Sebagian besar penelitian dalam
OB telah terfokus pada tiga sikap, yaitu kepuasan kerja, keterlibatan kerja,
dan komitmen pada organisasi.
d. Sikap
Memengaruhi Perilaku
Kreitner
dan Kinicki (2010: 162) mengungkapkan adanya penelitian yang menemukan bahwa
penelitian terhadap pekerja setengah umur menunjukkan prilaku kerja stabil
lebih dari 5 tahun. Sikap kerja positif tetap posistf, dan sikap negatif juga
tetap negatif. Bahkan mereka yang berganti pekerjaan atau jabatan tetap
mempertahankan sikap tersebut. Ada tiga faktor yang menyebabkan orang yang pada
usia menengah cenderung mepunyai stabilitas sikap, yaitu: (a) kepastian
personal lebih besar, merasa kelebihan pengetahuan, (c) perlunya mempunyai
nsikap yang kuat.
e. Sikap
Mempengaruhi Perilaku Melalui Maksud
Perbedaan
antara sikap dan prilaku ditentukan oleh intention,
yaitu kesiapan orang untuk mewujudkan perilaku tertentu. Adjen mengembangkan model memfokkus pada itentions sebagai kunci hubbungan antara
sikap dengan prilaku terencana (Kreitner dan Kinicki, 2010: 163). Berdasarkan
pandangan tersebut maka sikap tidak secara langsung membentuk prilaku, namun
melalui proses transisi yang dinamakan itention,
sebagai persiapan untuk mewujudkan prilaku. Model tersebut dapat dilihat pada
gambar teori prilaku terencana Ajzen berikut ini:
Attitude
toward the
behavior
Subjective intention Behavior
norm
Perceived
behavioral
control
Teori PerilakuTerencana Ajzen
Dapat dijelaskan bahwa sebagai
determonan itention adalah:
a)
Attitude toward
the behavior.
Sikap terhadap prilaku
menunjukkan tingkat keadaan
dimana orang mempunyai evaluasi yang menyenangkan dan
tidak menyenangkan atau penilaian terhadap prilaku yang menjadi masalah.
b)
Subjective norm. Norma subjektif adalah sebagai faktor
sosial yang menunjukkan tekanan
spsial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan prilaku.
c)
Preceived behaivor control. Kontrol prilaku yang dirasakan menunjukkan perasaan mudah atau sukar
untuk mewujudkan prilaku dan di asumsikan mencerminkan pengalaman masa lalu dan
demikian pula antisipasi terhadap rintangan dan hadapan.
f. Sikap
Kerja
Work atau
job attitudes atau sikap kerja seperti
organizational commitments (komitmen organisasional), job invloment/ employee engagement (keterlibatan kerja), dan job satisfaction (kepuasan kerja)
mempunyai kepentingan gandabagi manajer.
Disatu sisi, mencerminkan hasil penting bahwa manajer berkeinginan untuk
meningkatkan. Di sisi lain, merupakan gejala dan masalah potensial lain.
Rendahnya kepuasan kerja merupakan gejala keinginan pekerja untuk keluar dari
pekerjaan. Untuk itu manajer harus memahami penyebab konsekuensi dari sikap
kerja kunci.
III.
Kepuasaan Kerja
a. Terminologi Kepuasan
Kerja
Menurut
Robbins dan Judge (2010) Kepuasan kerja (job
satisfaction) dapat didefenisikan
ssebagai suatu perasaan positif tentang
pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya.
Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki persaan-perasaan
positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas
memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut. Ketika individu
membicarakan sikap karyawan, yang sering dimaksudkan adalah kepuasan kerja.
b. Faktor-faktor
Yang Memengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak
faktor yang memengaruhi kepuaan kerja karyawan. Faktor-faktor itu sendiri dalam
peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan bergantung pada pribadi
masing-masing
karyawan. Faktor-faktor yang memberikan
kepuasan menurut Blum dalam
Sutrisno (2015: 77) adalah:
ü Faktor
indivdual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan
harapan.
ü Faktor sosial, meliputi hubungan ekeluargaan, pandangan pekerja, kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan.
ü Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan, ketentraman kerja, kondisi kerja, dan
kesempatan untuk maju. Selain itu, juga penghargaan terhadap kecakapan, hubungan
sosial di dalam pekerjaan, ketepatan dalam menyelesaikan konflik antarmanusia,
perasaan diperlakukan adil baik yan menyangkut pribadi maupun tugas.
c. Mengukur Kepuasan Kerja
Pengukuran
kepuasan kerja dapat dilakukan berbagai cara, baik dari segi analiss statistik
maupun pengumpulan data. Dalam semua kasus, kepuasan kerja diukur dengan
kuesioner laporan diri yang diisi oleh karyawan. Pengukuran kepuasan kerja
dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu kepuasan kerja dilihat
sebagai konsep global, kepuasan kerja dilihat sebagai konsep permukaan, dan
kepuasan kerja dilihat sebagai fungsi kebutuhan yang terpenuhkan.
d. Dampak Kepuasan dan
Ketidakpuasan Kerja
Dampak
perilaku kepuasan dan ketidakpuasan kerja telah banyak diteliti dan dikaji. Beberapa
hasil penelitian tentang dampak kepuasan kerja terhadap produktivitas,
ketidakhadiran dan keluarnya pegawai, dan dampak terhadap kesehatan.
e. Etika dalam Kepuasan Kerja
Kepuasan
kerja adalah lebih dari sekadar memperbaiki perilaku kerja dan kepuasan kerja
pelanggan. Kepuasan kerja juga merupak masalah etika yang memengaruhi reputasi
organisasi dalam komunitas. Orang menggunakan sebagian besar waktunya untuk
bekerja dalam organisasi, dan banyak masyarakat sekarang mengharapkan
perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman dan menyenangkan. Orang di
beberapa negara dengan ketat memonitor peringkat perusahaan terbaik sebagai
tempat bekerja. Ini merupakan indikasi bahwa kepuasan pekerja adalah nilai
kebaikan yang dipertimbangkan sebagai kemauan baik pada employers. Kebaikan ini
menjadi nyata ketika organisasi mempunyai kepuasan kerja renda. Perusahaan
berusaha menyembunyikan fakta ini, dan ketika masalah etika menjadi publik,
pemimpin korporasi biasanya cepat memperbaiki situasi.
BAB X
DASAR-DASAR STRUKTUR ORGANISASI, RANCANGAN
KERJA DAN TEKNOLOGI
I.
Struktur Organisasi
a. Pengertian Struktur
Organisasi
Organisasi
merupakan kumpulan manusia yang diintegrasikan dalam suatu wadah kerjasama
untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditentukan. Menurut Sudarsoso
Hardjosoekarto dalam Nasrudin (2010: 163), pengertian yang dapat menyamakan
persepsi tentang organisasi adalah organisasi merupakan jalinan kontrak. Oleh
karena itu, faktor penting bagi keberadaan organisasi adalah sejauh mana
organisasi tersebut mampu mengadakan kontrak dengan pihak lain. Hal yang
membedakan organisasi yang satu dengan organisasi yang lainnya adalah struktur,
strategi, style, skill, staff, share value, dan system. Dalam hal struktur,
beberapa organisasi lebih senang memilih tipe garis atau lini, sementara
organisasi lain memilih tipe garis dan staff, tipe, kepanitiaaan atau tipe personal.
b. Teori-Teori dalam Struktur
Organisasi
1) Organisasi Sosial
Organisasi
sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat
dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup
bersama-sama, manusia membentuk
organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka
capai sendiri .
2) Organisasi Formal
Dalam
Winardi (2004: 89), dikatakan bahwa organisasi formal pada dasarnya merupakan
sebuah entitas yang berorientasi pada tujuan, yang dibentuk guna mengakomodasi
upaya-upaya para individu-individu dan kelompok-kelompok di dalamnya. Karena
bersifat formal, ia menyajikan hubungan-hubungan otoritas antara
pekerjaan-pekerjaan, merinci rantai komando dan menspesifikasi
kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur dalam hal mengoordinasi
aktivitas-aktivitas.
c.
Unsur-Unsur Terpenting Dalam Struktur Organisasi
Struktur organisasi mendefinisikan cara
tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Ada
enam unsure kunci yang perlu disampaikan kepada manajer ketika mereka merancang
struktur organisasinya. Unsure-unsur tersebut adalah spesialisasi pekerjaan, departementalisasi,
serta formalisasi.
d. Fakor-Faktor Penentu Utama Dalam
Struktur Organisasi
Menurut
Handoko (2001:160), faktor utama yang menentukan perancangan struktur
organisasi adalah sebagai berikut:
ü Strategi Organisasi
ü Anggota (Karyawan) dan Orang-orang Yang
Terlibat Dalam Organisasi
ü Ukuran Organisai
e. Langkah-Langkah Dalam Struktur
Organisasi
Menurut
Hardjito (1995) dalam Khaerul Umam (2012 : 61), penetapan struktur organisasi
tersebut memerlukan pemenuhan tujuan prinsip organisasi dengan langkah-langkah
yang dinilai penting, diantaranya adalah sebagai berikut.
Perumusan
Tujuan
Organisasi haruslah memiliki tujuan
yang jelas. Kejelasan tujuan yang berakhir dari visi dan misi yang gambling
serta berbeda dalam kendali nilai utama organisasi akan menjadi pedoman yang
mantap bagi anggota, terutama dalam menentukan langkah-langkah rasional yang
harus ditempuh.
Kesatuan
Arah
Dalam setiap struktur organisasi pasti
terdapat pimpinan (atasan) dan anggota (bawahan). Setiap bawahan hanya akan
memiliki satu atasan. Bawahan hanya menerima perintah dari dan bertanggung
jawab kepada atasannya. Kesatuan arah yang berpangkal dari kesatuan visi
organisasi akan membawa seluruh SDM organisasi kepada kesatuan langkah guna
mewujudkan tujuan organisasi.
Pembagian
Kerja
Langkah-langkah konkret yang telah
ditetapkan guna mencapai tujuan organisasi selanjutnya perlu dibagi dalam
beberapa kelompok aktivitas sehingga setiap bagian atau unit kerja mengetahui
secara jelas wewenang dan tanggung jawab yang diembannya.
Pendelegasian
Wewenang dan Tanggung Jawab.
Pendelegasian wewenang adalah prinsip
berikutnya yang harus dilakukan setelah pembagian kerja. Artinya, hal tersebut
dimaksudkan untuk agar setiap bagian dapat menjalankan setiap wewenang dan
tanggung jawabnya.
Koordinasi
Pelaksanaan wewenang setiap bagian
tentu akan berkaitan dan memengaruhi bagian yang lain. Oleh karena itu,
diperlukan koordinsi antara bagian. Prinsip ini menjadi penting, sebab dalam
praktiknya kerap ditemukan ksaus yang lebih mementingkan bagiannya sendiri.
Tingkat
Pengawasan
Guna memudahkan pengawasan, penyusunan
struktur organisasi harus dilakukan dengan memerhatikan tingkatan-tingkatan
pengawasan secara structural.
Rentang
Manajemen
Efektivitas dan efisiensi pengendalian
bawahan dipengaruhi oleh rentang manajemen (rentang kendali), yaitu beberapa
bawahan langsung yang dapat diawasi secara efektif dan efisien yang jumlahnya
bergantung pada kondisi yang dihadapi.
f. Fungsi Dan Kegunaan Struktur
Organisasi
Adapun fungsi atau kegunaan struktur
dalam organisasi, antara lain :
a.
Kejelasan
Tanggung Jawab
b.
Kejelasan
Uraian Tugas
g. Struktur Organisasi Jangka Panjang
Dan Jangka Pendek
Menurut Winardi (2009 : 145), organisas
jangka panjang dan organisasi jangka pendek adalah:
Organisasi
Jangka Pendek
Organisasi-organisasi jangka pendek
biasanya tidak berstruktur tinggi atau formal. Hubungan-hubungan di dalam
organisasi demikian ditetapkan asal saja dan tanpa dipikirkan dampaknya jangka
panjang.
Organisasi
Jangka Panjang
Biasanya terdapat struktur formal dan
jelas pada organisasi-organisasi jangka panjang. Struktur formal demikian
memungkinkan dikomunikasikannya keterangan-keterangan kepada semua anggota
organisasi. Dengan begitu hal-hal tersebut memungkinkan adanya usaha secara
terkoordimasi. Pada organisasi jangka panjang terdapat adanya tanggung jawab,
otoritas, kekuasaan dan aktivitas ditetapkan secara tertulis.
h. Mendesain Struktur
Sebuah Organisasi
Menurut
John (2006: 236), menyatakan para manajer yang mendesain sebuah struktur
organisasi menghadapi keputusan-keputusan yang sulit. Mereka harus memilih
berbagai alternatif kerangka kerja jabatan, proyek pekerjaan, dan departemen.
Proses para manajer membuat pilihan-pilihan tersebut disebut desain organisasi,
dan ini berarti keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang menghasilkan
sebuah struktur organisasi.
II.
Rancangan Kerja
a. Pengertian Rancangan
Kerja/Desain Kerja
Rancangan/ desain pekerjaan adalah
fungsi penetapan kegiatan kerja seorang atau sekelompok karyawan secara
organisasional. Tujuannya untuk mengatur penugasan kerja supaya dapat memenuhi
kebutuhan organisasi. Definisi diatas menjelaskan bahwa rancangan/desain
pekerjaan dibuat oleh perusahaan untuk mengatur tugas-tugas yang tepat sasaran,
memberikan tugas kepada orang dengan kemampuan dan keterampilan yang harus
dimiliki untuk mengerjakan tugas tersebut demi mencapai sasaran dari organisasi
tersebut (efektif).
b. Uraian Tugas Dalam
Rancangan/ Desain Pekerjaan
Rancangan/
desain pekerjaan dapat diartikan juga sebagai suatu pendekatan tugas secara
spesifik, yang ditetapkan menjadi suatu uraian tugas (deskripsi) di antara
pekerja dengan kelompok atau organisasi.
Spesialiasi Tenaga Kerja
Spesialisasi tenaga kerja merupakan
pembagian tugas secara khusus atau special, yang dapat dilakukan dengan
mengembangkan keterampilan karyawan, mengurangi kerugian waktu sebagai akibat
keengganan karyawan untuk melakukan peralihan tugas, serta pelatihan untuk
menggunakan peralatan secara special atau khusus.
Pengembangan Tugas/Pekerjaan
Pengembangan tugas karyawan dilakukan
untuk dapat mengantisipasi perubahan permintaan atas produk atau jasa dari
pelanggan. Perubahan permintaan konsumen dapat menjadi perubahan secara total
sebagai sistem konversi, sehingga akan mengubah dan mengembangkan tugas.
c.
Desain Organisasi Yang Umum
Struktur
Sederhana
Struktur
sederhana, terutama yang dicirikan dengan apa yang bukan dan bukan yang
sebenarnya. Struktur ini tidak rumit. Struktur sederhana memiliki kadar
departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang
tersentralisasi pada seseorang, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana
adalah sebuah organisasi “rata” biasanya hanya memiliki dua atau tiga tingkatan
vertical badan karyawan yang longgar, dan satu individu yang kepadanya wewenang
pengambilan keputusan dipusatkan.
Birokrasi
Birokrasi
dicirikan dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui
spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang
dikelompokkan kedalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat,
rentang kendali yang sempit dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai
komando
Struktur
Matriks
Pilihan desain organisasi yang lain
yang populer adakah struktur matriks. Pada hakikatnya truktur matriks
menggabungkan dua bentuk departementalisasi fungsional dan produk.
Karakteristik structural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan
konsep kekuatan komando. Karyawan dalam struktur matriks memiliki dua
atasan-manajer departemen fungsional dan manajer produk. Karena itu matriks
mempunyai rantai komado ganda.
III.
Teknologi Organisasi
a. Pengertian Teknologi Dalam Organisasi
Teknologi organisasi merujuk pada
informasi, peralatan, teknik, proses, metode yang dibutuhkan dan kombinasi dari
keterampilan, pengetahuan, kemampuan, tenik-teknik, metrial, mesin, computer,
peralatan, dan perlengkapan lainnya dengan mengubah masukan menjadi keluaran
untuk organisasi dan juga orang-orang mengubahnya menjadi berguna dalam
memberikan jasa pelayanan organisasi. Teknologi organisasi juga melihat
bagaimana masukan diubah menjadi keluaran, konsep teknologi walaupun mempunyai
konotasi mekanik atau manufaktur tetapi dapat diaplikasikan pada semua jenis
organisasi.
b.
Jenis-Jenis Teknologi Organisasi: Rutin
Dan Non Rutin
Jenis-jenis teknologi yang dibahas ini,
sebagian ada yang terlihat langsung hubungan nya dengan struktur dan sebagian
agak kurang jelas. Dari berbagai jenis hubungan teknologi dengan struktur
sering kali kurang jelas, oleh karenanya untuk menggambarkan hubungan yang
lebih jelas, keseluruhan teknologi itu barankali dapat dikelompokkan dalam dua
jenis, yaitu teknologi rutin dan non rutin. Teknologi rutin mengacu pada proses
transformasi yang berulang-ulang dan re;atif dapat diotomatisasi, sedangkan
teknologi non rutin mengacu pada proses yang tidak berulang-ulang dan relative
tidak diotomatisasi keuntungan bagi semua pihak atau tidak.
Referensi
:
Wijaya,
Candra. 2017. Perilaku Organisasi. Medan
: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI)
Komentar
Posting Komentar